Jumat, 27 Februari 2015

Paman Sam: Pemimpin Anti-Teror atau Peternak Teror?






Amerika Serikat (AS) selama ini selalu berusaha ingin menganggap dirinya sebagai pemimpin aliansi anti-terorisme semenjak serangan mematikan 11 September pada tahun 2001, namun tanpa disadari Sam justru memiliki 'identitas rahasia' sebagai peternak teroris.





Demikian tulis media China, dalam sebuah artikel yang membahas mengenai jejak-jejak negara tersebut di wilayah Timur Tengah, yang dipublikasikan Xinhua berjudul AS: Pemimpin anti-teror atau petenak teror?





Menurut mereka, hampir semua 'sel teror' muncul di negara yang pernah invansi oleh AS.





"Saat berperang melawan invasi Soviet di Afghanistan 1979-1989, badan-badan intelijen AS mendukung banyak kelompok 'fundamentalis' Islam di negara tak bergaris berpantai serta di negara-negara Islam lainnya. Dan seorang pengusaha Arab muncul sebagai anak didik terbaik Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat dalam perang pengganti diantara dua kekuatan super. Ia bernama Osama bin Laden," Tulis Xinhua.





"Al-Qaeda, kelompok 'teroris' banyak pendirinya dilatih oleh pemerintah AS, telah menjadi kelompok teroris terbesar dan paling terkenal di dunia. Dan memiliki bisnis waralaba yang mencapai hampir semua negara-negara Islam yang dilanda perang," lanjut tulisan itu.





Sementara IS (Islamic State), lanjut Xinhua, yang dianggap "terlalu ekstrem" di mata para pejuang al-Qaeda, mulanya anggota kunci mereka dilatih oleh CIA dan pasukan khusus pemerintah di sebuah kamp rahasia di Yordania pada tahun 2012, menurut RT, mengutip informasi pejabat Yordania.





"Terlebih lagi, jejak badan-badan intelijen AS yang tidak terbatas di dunia Islam," tambah Media top Cina itu.





Dalam artikel itu, Xinhua menyebut CIA dilatih dan 'memelihara' dua teroris yang mencoba membunuh pemimpin Kuba Fidel Castro dan menggulingkan pemerintah komunis di negara itu.





"Luis Posada Carriles, seorang warga Kuba yang melarikan diri ke Amerika Serikat setelah Revolusi Kuba, membantu mengatur invasi Teluk Babi, dan setelah itu gagal, ia menjadi agen CIA," tulisnya.





Luis Posada Carriles dilatih di Fort Benning, sebuah pos Angkatan Darat AS di luar colubus, Georgia. Dari tahun 1964 sampai tahun 1968, dia terlibat dalam serangkaian pemboman dan kegiatan rahasia anti-Castro lainnya.





Amerika dinilai terlalu menjunjung tinggi bendera anti-terorisme dan kepentingan egois mereka, tanpa menyadari bahwa mereka penyebab kehadiran 'sel-sel' yang kemudian hari mereka sebut 'teroris'.





"Washington tidak terlalu memperhatikan akar penyebab terorisme, yang harus dianggap menarik. Sebagai kelompok baru yang masuk daftar hitam, ISIS bukanlah berasal dari Iran atau Korea Utara, dimana kedua kerap disebut musuh Washington. Namun ISIS muncul di Irak, negara yang 'dibebaskan' dan 'demokratisasi' oleh AS sendiri," tulis Xinhua.





Dalam artikel itu juga disebutkan bahwa secara sadar atau tidak, AS telah menbuat beberapa negara menjadi 'sarang teroris' dengan kebijakan yang mereka ambil. Seperti operasi di Afghanistan dan juga Libya.





"Diakui atau tidak, AS telah memerankan sebuah peran besar sebagai seorang peternak teroris, ketika mereka (AS) menjadikan Afghanistan, Irak, Suriah, dan Libya menjadi medan tempur, dan terus membiarkan negara tersebut terbakar perang, tanpa jaminan keamanan dan stabilitas," tambah artikel itu.



XINHUA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar