Sabtu, 07 Februari 2015

Tali Gantung Saddam Hussein ditawar Rp88 Miliar





Sepotong tali yang digunakan untuk mengeksekusi mantan penguasa Irak, Saddam Hussein disiapkan untuk lelang dengan tawaran terbaru senilai US$ 7 juta, atau sekitar Rp 88,2 miliar. Pemilik tiang gantung tersebut saat ini adalah politisi Irak, Dr. Mawaffak al-Rubaie, yang memimpin ekseskusi mati Saddam Hussein.



Dilaporkan media Timur Tengah, Al-Araby al-Jadeed tali gantung yang meregang nyawa diktator Irak tersebut diminati oleh banyak kalangan, termasuk sebuah keluarga Israel papan atas, organisasi keagamaan di Iran dan dua pengusaha Kuwait.



Meskipun demikian, media Timur Tengah lainnya, Middle East Eye, melaporkan bahwa Rubaie belum mau melepaskan tali gantung miliknya tersebut di harga US$ 7 juta.



Rubaie sendiri pernah mengalami siksaan dari pasukan bekerja untuk Saddam karena keyakinan politiknya. Rubaie percaya bahwa Saddam layak untuk dieksekusi mati.



Dalam wawancara dengan media Inggris, The Independent pada tahun 2013 silam, Rubaie menyatakan bahwa dia tak memiliki perasaan apa pun kecuali rasa sakit hati ketika dia membawa Saddam menunju tiang gantungan.



"Saya berharap melihat dia menunjukkan rasa penyesalan atas kejahatan yang mengerikan, yaitu ratusan ribu warganya sendiri tewas ditangannya dan kaki tangannya. Namun, (rasa penyesalan) itu tidak ada," kata Rubaie.



Meskipun demikian, lelang tali gantung tersebut memicu kecaman dari berbagai kelompok hak asasi manusia. Seorang aktivis, Ahmeed Saheed, mengatakan kepada Al-Araby-Al-Jadeed bahwa hasil lelang tali gantung tersebut seharusnya diberikan kepada kas negara Irak.



Saddam Hussein, mantan Presiden Irak yang berkuasa selama lebih dari 23 tahun dimakzulkan dari kekuasaannya oleh invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2003. Tercatat, sebanyak 206 ribu orang tewas sejak invasi AS pada tahun 2003.



Saddam dianggap bertanggung jawab terhadap kematian ratusan ribu orang, sebagian besar merupakan etnis Kurdi dan penganut Syiah, yang memiliki pandangan politik dan agama yang berbeda dengan sang diktator.



Saddam dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Khusus Irak pada tahun 2004, meskipun banyak kelompok hak asasi, termasuk Amnesty Internationa, menyakini bahwa persidangan dilakukan dengan tidak adil.



Irak saat ini masih dibekap peperangan kelompok militan, utamanya dari ISIS, yang telah menguasai wilayah utara dan barat Irak. Akhir Januari lalu, ISIS dilaporkan menyerang kota Kirkuk yang merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Irak. (*)



sumber: CNN





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar