Sabtu, 14 Februari 2015

‘Muka Dua’ Media Barat terkait Tragedi Chapel Hill, Pengamat: “Memang Ada Konspirasi...”





Penembakan tragis terhadap tiga mahasiswa Muslim di Chapel Hill, North Carolina, AS, Selasa (10/2) terlihat tak mendapat cukup perhatian dari media-media besar, khususnya media Barat.



Menurut pengamat media dari Lembaga Survei Indonesia, Dodi Ambardi, fenomena tersebut terjadi karena kombinasi berbagai faktor, salah satunya adalah faktor media yang cenderung memotret Muslim dengan citra yang buruk.



"Ada pola untuk memotret Islam dengan cara tertentu. Sama seperti memotret warga kulit hitam, mereka cenderung stereotyping," kata Dodi pada Jumat (13/2).



Faktor ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, menurut Dodi, gencarnya arus pemberitaan media Barat belakangan yang berfokus soal berbagai serangan oleh kelompok militan Islam di sejumlah negara, seperti serangan kelompok militan ISIS, Boko Haram, serangan di Paris dan Australia, kerap kali menyeret Islam dengan imej yang negatif.



"Mereka ignorance, cenderung ada kemalasan dari media Barat untuk memotret Muslim secara baik. (Mereka) malas memetakan dan membedakan mana Muslim yang ekstrem dan mana Muslim yang moderat," kata Dodi lansir CNN Indonesia, Jumat (13/2).



Dodi juga tidak menampik kemungkinan adanya agenda tertentu yang disandang media-media Barat dalam melaporkan serangan terhadap Islam



"Mungkin memang ada konspirasi, yang dilakukan oleh media-media ekstrem. Dan bukan hanya di Amerika, semua negara punya media ekstrem, yang hanya memberitakan sesuai dengan ideologi mereka," kata Dodi.



Selain itu, menurut Dodi, media cenderung mengikuti selera pasar. Dodi menilai pemberitaan media Barat yang minim terhadap serangan di Chapel Hill bisa jadi merupakan representasi pembacanya.



"Ya tergantung pembacanya. Mungkin saja itu representasi pola pikir masyarakatnya. Sayang sekali memang, hal ini terjadi pada saat serangan Chapel Hill tersebut," kata Dodi.



Penembakan di Chapel hill, North Carolina, menewaskan tiga mahasiswa Muslim, yaitu Deah Shaddy Barakat, 23 tahun, istrinya, Yusor Mohammad, 21 tahun, dan adik Yusor, Razan Mohammad Abu-Salha, 19 tahun. Ketiganya, yang merupakan mahasiswa Universitas North Carolina dan Universitas Negeri North Carolina, tewas ditembak di kepala oleh Craig Stephen Hicks pada Selasa (10/2) sekitar pukul 5 sore.



Penembakan yang dilakukan oleh Craig Stephen Hicks, pria AS yang mengaku atheis terlambat diberitakan oleh sejumlah media Barat, seperti BBC, Reuters, dan CNN, yaitu pada Rabu (11/2), atau satu hari setelah penembakan. Padahal, biasanya media Barat selalu tanggap terhadap peristiwa kriminal seperti ini.



Tak pelak, sejumlah pengguna media sosial Twitter pun melontarkan kritikan melalui tagar #chapelhillshooting #alllivesmatter dan #muslimlivesmatter yang termasuk dalam trending topic, atau topik yang paling sering dibicarakan di Twitter, pada Kamis (12/2).



Gerakan tersebut mengehembuskan kritik tajam kepada media-media Barat. Mereka menuduh minimnya liputan soal insiden ini lantaran para korban yang merupakan umat Muslim.
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar