Sabtu, 07 Februari 2015

Muslim Rusia Desak Putin Izinkan Hijab di Sekolah



Seorang pemimpin Muslim Rusia meminta Presiden Vladimir Putin mengijinkan pemakaian hijab di sekolah-sekolah.



Rawil Gaynetdin, kepala Urusan Muslim Rusia di negara-negara bagian Rusia di Eropa, mengajukan permintaan dalam surat ke Putin. Menurutnya, permintaan dilayangkan sehubungan kian banyaknya negara bagian yang melarang Muslimah berhijab di sekolah.



Kantor berita Itar-TASS melaporkan permintaan ini memunculkan debat publik di media massa. Banyak pihak mendukung upaya Gaynetdin, tapi tak sedikit yang menentang.



Di Republik Mordovia, Mahkamah Agung Rusia akan mempertimbangkan keluhan Muslimah Rusia yang dilarang berhijab saat bersekolah.



"Tidak ada yang khusus dalam hijab," ujar Gaynetdin. "Ini bukan simbol agama, atau berniat menantang masyarakat."



Menurut Gaynetdin, Muslim Rusia tidak sedang melawan demokrasi, tidak menghormati tradisi Eurasia, dan mengembangkan intoleransi.



Wilayah Stavropol adalah yang kali pertama melawang hijab tahun 2012. Setahun kemudian Mahkamah Agung menguatkan lrangan itu.



Vladimir Putin juga mengatakan tidak pernah ada tradisi mengenakan hijab di sekolah-sekolah, bahkan di wilayah mayoritas Muslim Rusia.



Putin mungkin benar. Namun ia tidak melihat terjadinya peningkatan kesadaran berhijab di kalangan Muslimah Rusia. Di Moskwa, misalnya, wanita berhijab sangat mudah ditemukan.



Namun Moscows State Medical University melarang mahasiswi berhijab masuk kampus. Larangan ini memicu kontroversi.



Menteri Pendidikan Dmitry Livanov, Rabu (4/2), mengatakan sekolah di Rusia sekuler, dengan aturan pakaian ketat. Semua sekolah harus mengikuti aturan itu.



Vsevolod Chaplin, imam besar Gereja Ortodoks Rusia, mengatakan; "Melarang orang berperilaku sesuai iman mereka adalah penipuan pseudo-hukum."



Rabbi Zinoviy Kogan, ketua Kongres dan Organisasi Yahudi, mengatakan; "Jika ke tempat ibadah, orang bebas mengenakan pakaian keagamaan, tapi di sekolah itu tidak dapat diterima.



Roman Silantyev, pakar keislaman, punya pendapat lain. Menurutnya, semua ini bukan soal melawan hijab, tapi perlawanan terhadap Islam, terutama di wilayah-wilayah Wahabbi tumbuh subur di Rusia.



sumber: Itar-TASS/inilah





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar