Minggu, 25 Januari 2015

Siapa Tahanan Wanita yang Diinginkan ISIS?



Sajida al-Rishawi adalah seorang pelaku bom bunuh diri yang gagal meledakkan dirinya pada serangkaian peristiwa bom di hotel-hotel Yordania pada 2005.



Namun apa hubungannya dengan ISIS sehingga kelompok militan itu meminta al-Rishawi untuk ditukar dengan seorang sandera Jepang, Kenji Goto?


Dalam video terbaru ISIS yang menunjukkan Goto memegang foto eksekusi dari Haruna Yukawa, sandera Jepang lain, serta rekaman suara Goto, al-Rishawi disebut sebagai “saudara perempuan yang dipenjara”.


Suara Goto, yang berbicara dalam bahasa Inggris, menyebutkan pemerintah Jepang bisa dengan mudah menyelamatkan nyawanya hanya dengan membebaskan al-Rishawi dari penjara Yordania.


Video terbaru ini dirilis lewat Youtube pada Sabtu (24/1) malam, sehari setelah tenggat waktu dari ISIS habis. ISIS merilis video penyanderaan dua warga Jepang pada Selasa (20/1) dan meminta uang tebusan untuk masing-masing kepala sebesar US$100 juta atau mereka akan dibunuh dalam 72 jam. Tenggat waktu ini jatuh pada Jumat (23/1).


Dalam video terbaru, Goto mengatakan ISIS tak lagi menginginkan uang tebusan, melainkan pertukaran orang.


Tak terdengar hampir satu dekade




Al-Rishawi, yang ini berada di penjara Yordania, tak terlihat di muka publik selama sembilan tahun.


Dalam pengakuannya di televisi Yordania pada 2005 lalu, al-Rishawi dengan tenang menceritakan bagaimana ia ambil bagian dalam rentetan pengeboman di beberapa hotel di Yordania yang menewaskan setidaknya 57 orang.


“Suami saya mengaktifkan bomnya dan saya mencoba mengaktifkan bom saya namun gagal. Orang-orang berlarian dan saya juga ikut berlari bersama mereka,” katanya tanpa emosi, seperti dikutip dari CNN.


Menggunakan kerudung berwarna putih dan pakaian hitam saat pengakuan itu, al-Rishawi menunjukkan bawgaimana ia membawa bom bunuh diri yang diikat ke tubuhnya dengan menggunakan lakban.


Pada 2006, al-Rishawi diganjar hukuman mati, namun di tahun yang sama Yordania sedang membahas moratorium terhadap hukuman mati. Ekseskusi hukuman mati terhadap al-Rishawi, lalu kembali diberlakukan bulan lalu.


Otoritas Yordania mengatakan al-Rishawi, yang kini berusia 40an, dituduh berkomplot dengan suamnya Hussein Ali al-Shamari, untuk melakukan pengeboman di hotel Radisson.


Bom yang dibawa suaminya meledak, menewaskan 38 orang yang sedang menghadiri acara perkawinan di hotel. Tiga orang pengebom bunuh diri laki-laki dan 57 lainnya terbunuh dalam rentetan pengeboman di tiga hotel.


Al-Rishawi mengatakan ia adalah orang Irak yang tinggal di Ramadi dan masuk ke Yordania bersama suaminya dengan paspor palsu.


Ia mengatakan kepada pihak berwenang Yordania bahwa ia diajari mengaktifkan bom oleh suaminya.


Al-Rishawi mengatakan ia dan suaminya berdiri berseberangan di ruangan itu untuk melakukan pengeboman ganda.


Dalam pengakuannya, al-Rishawi mengatakan, “Suami saya adalah orang yang mengatur semuanya.”


Otoritas Yordania saat itu mengatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh al-Qaidah di Irak, yang dipimpin oleh pria kelahiran Yordania, Abu Musab al-Zarqawi. Sebuah situs yang digunakan oleh al-Qaidah di Irak mengklaim serangan bom di Yordania.


Al-Zarqawi terbunuh dalah serangan AS pada Juni 2006.


Wakil Perdana Menteri Yordania Marwan Muasher mengatakan bahwa al-Rishawi adalah saudara perempuan dari tangan kanan al-Zarqawi, yang terbunuh di Falluja, Irak.


Pemimpin ISIS saat ini, Abu Bakr al-Baghdadi, adalah letnan dari al-Zarqawi, menurut sumber CNN, Letkol. James Reese, mantan komandan pasukan Delta Force.


CNN




DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar