Minggu, 25 Januari 2015

Film American Sniper Pemicu Gerakan Anti-Islam di AS dan Eropa






Film Amerika Sniper telah menyebabkan meningkatnya gerakan ati-Muslim di AS dan Barat



Di Eropa, kekerasan anti-Muslim muncul dan menggejala setelah serangan ke kantor majalah Charlie Hebdo, Rabu (7/1). Di AS, gelombang anti-Muslim segera dimulai menyusul rilis film American Sniper.



Komite anti-Diskriminasi Arab-Amerika (ADC) mengatakan indikasi ke arah itu telah terlihat.



"Mayoritas ancaman kekerasan yang kami lihat selama beberapa hari terakhir adalah hasil penggambaran Muslim dan Arab di American Sniper," demikian keterangan resmi ADC.



PressTV melaporkan ADC telah mengirim surat ke Clint Eastwood dan Bradley Cooper, sutradara dan pemeran utama film itu, untuk menyatakan keberatan atas penggambaran Muslim dan Arab di seluruh bagian film yang baru dirilis.



Film dibuat berdasarkan kisan tentara AS bernama Chris Kyle, yang bertugas di Irak. Kyle, ditembak mati tahun 2013, adalah anggota pasukan khusus Seal yang memiliki rekor membunuh tertinggi dalam sejarah AS.



Ia seorang penembak runduk (sniper). Ia pembunuh tunggal, yang mencatat setiap korbannya selama bertugas.



Selama di Irak, Kyle membunuh 60 orang Arab Irak, yang kerap disebut diberi label 'biadab'. Kyle tidak sekadar menembak, tapi juga menulis. Ia memiliki gambaran paling keji untuk orang Muslim dan Arab, dan semuanya terangkat dalam film.



Film kontroversi



Beberapa orang memuji penggambaran dari Kyle sebagai pahlawan perang, tetapi disisi lain ia dikritik karena memuliakan kekerasan dan sikap Kyle terhadap korbannya.



Kyle, seorang Navy Seal, menjabat empat masa tugas di Irak dan menewaskan lebih dari 160 orang, membuatnya sniper paling mematikan dalam sejarah Amerika.



Film ini didasarkan pada bukunya, juga berjudul Amerika Sniper, di mana ia mengaku tidak menyesal dan disebut orang-orang yang tewas sebagai "biadab".



ADC mengatakan banyak veteran perang keberatan dengan penggambaran dalam film ini. Bagaimana mungkin Kyle yang beradab tidak menunjukan rasa hormat kepada lawan di medan perang. (*inlah)
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar