Rabu, 31 Desember 2014

Israel Puas Resolusi Palestina Dijegal Amerika di PBB



Dewan Keamanan PBB pada Selasa (30/12) gagal mensahkan resolusi yang dirancang Palestina yang mendesak diakhirinya pendudukan Israel paling lambat pada 2017.



Rancangan resolusi itu, yang gagal memperoleh sembilan suara dukungan, menerima delapan suara "ya" dan lima abstein, demikian laporan Xinhua. Amerika Serikat dan Australia menentangnya.



Duta Besar Yordania untuk PBB Dino Kawar mengungkapkan kekecewaannya atas gagalnya sebuah resolusi mengenai Palestina untuk bisa diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB.



Yordania yang menjadi satu-satunya negara Arab dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB (lima di antaranya anggota tetap), mengatakan anggota DK PBB mesti punya waktu lebih banyak lagi untuk merundingkan soal Palestina itu.



Kegagalan ini sendiri sudah diprediksi lama karena Amerika Serikat kabarnya tak ingin resolusi itu disetujui sebelum Pemilu Israel pada Maret nanti.



Palestina sendiri kecewa atas kegagalan DK PBB dalam mengadopsi resolusi mengenai seruan penarikan mundur Israel dari Tepi Barat dan Yerusalem Timur, selain usul menjadikan Yerusalem sebagai ibukota bersama Israel dan Palestina ini.



Kendati gagal, Palestina berterimakasih kepada negara-negara yang telah "ya" untuk resolusi itu.



Pengamat Palestina di PBB Riyad Mansour berterimakasih kepada negara-negara yang telah mendukung Palestina seraya menggarisbawahi parlemen-parlemen Eropa yang belakangan menyerukan pengakuan Negara Palestina.



"Sangat disesalkan Dewan Keamanan tetap saja lumpuh," kata Mansour seperti dikutip Reuters.



Untuk meloloskan sebuah resolusi, maka resolusi itu membutuhkan persetujuan sembilan dari 15 negara anggota DK PBB.



Israel Puas



Israel mengungkapkan kepuasaanya setelah Dewan Keamanan PBB gagal mengadopsi resolusi kontroversial menyangkut Negara Palestina yang punya tenggat 12 bulan untuk disepakati sebagai kesepakatan damai terakhir.



"Setiap orang Israel yang menginginkan perdamaian dengan negara-negara tetangga kami hanya bisa puas atas hasil pemungutan suara (untuk draft resolusi) itu," kata deputi menteri luar negeri Israel Tzahi HaNegbi seperti dikutip AFP.



"Ini adalah pukulan bagi upaya (Presiden Palestina) Mahmud Abbas dalam mempermalukan dan mengisolasi kita," kata HaNegbi yang adalah orang dekat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.



Delapan negara menyatakan ya untuk draft resolusi itu, termasuk tiga anggota tetap DK PBB --Tiongkok, Prancis dan Rusia-- namun tidak berhasil didukung sembilan suara yang dibutuhkan dalam Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara itu (lima diantaranya anggota tetap.



Australia dan Amerika Serikat menentangnya, sedangkan lima negara lain abstain, termasuk Inggris.



Para pejabat Israel menyambut kegagalan DK PBB dalam mengadopsi resolusui berisi seruan penarikan mundur Israel dari Tepi Barat dan Yerusalem Timur itu, namun beberapa media Israel menyebut "kemenangan diplomatik" Israel ini hanyalah sementara dan tidak akan membendung tekanan internasional bagi dilakukannya pedamaian dengan Palestina, demikian AFP.





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar