Selasa, 30 Desember 2014

Awan Cumulonimbus bersuhu -60˚ Celcius Bekukan AirAsia QZ8501






Awan Cumulonimbus atau biasa disingkat menjadi 'Cb' diduga menjadi salah satu penyebab jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501. Awan ini juga pernah menghantam pesawat Garuda yang selamat pada 2002.



Ketinggian awan Cb bisa mencapai 40.000 kaki (12 kilometer) atau lebih dari permukaan tanah. Awan Cb yang menghantam QZ8501 diperkirakan bersuhu -48˚ hingga -62˚ celcius yang mengakibatkan turbulensi (guncangan) dan pembekuan dibeberapa bagian pesawat.



Menurut BMKG disekitar titik hilangnya pesawat QZ8501 sedang terjadi badai petir.



Cumulonimbus sendiri berasal dari bahasa latin cumulus atau akumulasi, serta nimbus atau hujan. Awan Cb biasanya ditemani oleh awan kumulus di ketinggian yang lebih rendah, menyebabkan terjadinya pembentukan awan seperti jamur yang membentang beberapa kilometer. Awan ini terbentuk karena ketidakstabilan yang terjadi di atmosfer.



Awan ini terbentuk dari uap air yang dibawa oleh arus udara mengarah ke atas yang sangat kuat. Awan Cb yang berada pada tingkat yang rendah hanya berisi butiran air, sementara pada elevasi yang lebih tinggi dan suhu berada jauh di bawah 0 derajat Celsius, kristal es mendominasi. Cb bisa terbentuk sendiri, bisa juga secara berkelompok.



Di jantung awan ini terdapat petir, yang bisa berkembang menjadi awan hujan, supersel atau badai petir, bahkan dapat menyebabkan tornado. Ada tiga tahap pembentukan awan Cb: developing stage (perkembangan), mature stage (matang) dan dissipation stage (pelesapan).



Tergantung dari kondisi yang ada, tiga tahapan ini bisa berlangsung selama 30 menit. Saat berkembang, awan raksasa ini bisa menembus tiga lapis tingkatan awan (tingkat tinggi, tingkat menengah, dan tingkat rendah). Bahkan awan Cb terkecil bisa membuat kerdil awan-awan lainnya.[]



Infografis:







sumber: National Geographic / grafis: tempo
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






1 komentar: