Minggu, 28 Desember 2014

Belum Pernah ada Pesawat 'Lost Contact' Mendarat Selamat





Pilot senior Garuda, Kapten Darwis Pandjaitan, memaparkan secara teori ada sejumlah penyebab kecelakaan pesawat dan biasanya hal tersebut saling bertalian. Antara lain, kondisi cuaca, masalah teknis, dan human error.



“Kalau hanya cuaca, biasanya secara teori bisa dihindari. Karena bisa dilihat dari radar kondisi cuaca hingga 204 mil ke depan. Nah kalau cuaca tidak baik, pilot akan meminta izin ATC pindah jalur. Misalnya naik ke ketinggian tertentu. Izin dari ATC diperlukan supaya tidak terjadi tabrakan dengan pesawat lain,” katanya seperti dilansir JPNN, Minggu (28/12).



Penyebab lain, ada unsur masalah teknis pada pesawat. Untuk mengetahui kondisi ini, pesawat kata Darwis harus ditemukan terlebih dahulu. Menurutnya, walaupun masalah teknis biasanya hanya sepersekian persen, namun tetap perlu dicari tahu, karena mungkin saja terjadi.



“Yang ketiga faktor manusia. Mulai dari pilot, mekanik, atau pihak-pihak lain yang melepas pesawat dari darat,” ujar Ketua Bidang Profesi Pilot, Federasi Pilot Indonesia ini.



Saat ditanya apakah selama 37 tahun menerbangkan Pesawat Garuda, dirinya pernah mengalami kehilangan kontak dengan Air Traffic Control (ATC) atau pengatur lalu lintas udara, seperti yang dialami Air Asia QZ 8501, Darwis mengatakan tidak pernah.



Karena menurutnya, kecil kemungkinan pesawat-pesawat modern mengalami hal tersebut, jika masih dalam keadaan terbang, karena peralatan komunikasi yang dimiliki sudah cukup canggih.



“Kondisi jaman sekarang nyaris tidak ditemukan. Karena ada radio 1-4. Jadi ada beberapa back-up radio. Saya kira sampai sekarang belum pernah pesawat lost contact mendarat dengan selamat. Selain itu kalau lost contact, juga ada alat radar melalui ATC. Berapa ketinggian, atau turun berapa, itu semua ada,” katanya.



Namun begitu, Darwis mengaku tidak bijak jika dirinya berandai-andai terhadap peristiwa yang dialami Air Asia QZ 8501. Karena pihak berwenang hingga saat ini masih terus melakukan pencarian.



Selain itu, Darwis juga mengatakan pandangannya dikemukakan semata-mata hanya berdasarkan teori umum. Karena hingga saat ini tidak ada asumsi khusus terhadap sebuah peristiwa, mengingat kecenderungan penyebab sebuah peristiwa berbeda-beda.



Darwis juga memaparkan pesawat Airbus A320-200, atau yang sejenis dengan Air Asia QZ 8501, biasanya juga menggunakan dua mesin. Artinya, ketika pesawat satu mesin mati, masih dapat berjalan meski dengan kondisi seadanya.



JPNN





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar