Sabtu, 07 Maret 2015

Snowden: “AS Tekan 21 Negara Tolak Suaka Saya”





Sebelum menjadi kontraktor di Otoritas Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Edward Snowden merupakan agen CIA yang menyamar di Jenewa, Swiss, dan mengaku ingin kembali ke sana. Namun, Snowden mengaku curiga Swiss tidak akan memberikan suaka padanya karena ditekan oleh AS.


Hal ini diungkapkan langsung oleh Snowden dalam acara penayangan film "Citizenfour" yang mengangkat kisah kehidupannya ketika membocorkan program mata-mata pemerintah AS di Jenewa. Mengejutkan pengunjung, Snowden yang tidak dijadwalkan hadir tiba-tiba muncul melalui sambungan video langsung dari Moskow, Rusia, tempat Snowden menetap sekarang.


"Saya ingin kembali ke Swiss. Beberapa kenangan favorit saya berasal dari Jenewa. Itu adalah tempat yang indah," ujar Snowden kepada pengunjung Festival Film dan Forum Internasional tentang Hak Asasi Manusia di Jenewa pada Kamis (5/3), seperti dikutip Sputnik, Jumat (6/3).


Rusia adalah satu-satunya negara yang memberikan suaka politik kepada Snowden sejak ia membocorkan ribuan dokumen rahasia kepada media yang ia peroleh saat bekerja untuk perusahaan konsultan Booz Allen Hamilton pada 2013. Namun, Snowden menyiratkan keinginannya untuk tinggal di negara non-partisan.


"Saya pikir Swiss akan menjadi pilihan politik yang baik karena (negara) ini memiliki sejarah netral," ucapnya.


Sejak AS menahan paspornya, Snowden telah mengajukan suaka ke 21 negara yang mayoritas terletak di pusat dan barat Eropa. Sayangnya, menurut Snowden, tak ada satupun yang menyetujuinya.


Snowden menuding AS melakukan intervensi politik di balik penolakan ini.


Pada 2014, seorang jaksa pemerintah Swiss mengajukan gagasan bahwa Snowden akan mendapatkan jaminan perjalanan jika ia setuju untuk membantu mengidentifikasi program AS mata-mata di negara itu. Namun, menurut data yang diperoleh Reuters, Swiss tak akan mengekstradisi Snowden ke AS dan tidak memberikan suaka politik.


"Masih ada kehadiran spionase aktif AS di Swiss. Saya pikir itu juga ada di negara-negara lainnya," ungkapnya.


Sebelumnya, pada Selasa (3/3) lalu, Snowden menyatakan kesiapannya untuk kembali ke AS dengan syarat ia mendapat pengadilan yang adil dan tak memihak.


Pengacara Snowden, Anatoly Kucherena, mengatakan Snowden sejauh ini telah menerima jaminan dari Jaksa Agung Eric Holder bahwa ia tidak akan menghadapi hukuman mati. Namun, Snowden juga menginginkan jaminan akan “hukum dan peradilan yang tak memihak.”


Pengadilan semacam itu, menurut penasihat hukum Snowden, berarti dia tidak akan menghadapi tuntutan di bawah Undang-Undang Spionase, hukum era Perang Dunia I yang digunakan untuk mendakwa whistleblower Pentagon Papers, Daniel Ellsberg.


Namun, harapan itu pupus ketika sehari setelahnya Snowden mengungkapkan bahwa AS tidak menawarkan itu kepadanya.


"Satu-satunya hal yang mereka katakan pada titik ini adalah mereka tidak akan mengeksekusi saya, yang berarti tidak sama dengan pengadilan yang adil," kata Snowden.


Dalam acara pemutaran film tersebut, Snowden menerima banyak dukungan. Salah satunya dari perwakilan Amnesty International, Sherif Elsayed-Ali yang berkata, "Edward Snowden tak diragukan lagi adalah whistleblower yang harus dilindungi. Ia bahkan tidak seharusnya diadili karena apa yang ia lakukan adalah untuk menyorot tindakan pemerintah yang melewati batas dan hal itu tidak seharusnya terjadi."


CNN International

Tidak ada komentar:

Posting Komentar