Kamis, 05 Maret 2015

Rusia Tuduh Islam Radikal terkait Terbunuhnya Boris Nemtsov





Komisi yang menyelidiki penembakan politisi oposisi Boris Nemtsov di Moskow 28 Februari, menuduh kelompok ekstremis muslim berada di balik pembunuhan tersebut.



Komite penyelidik juga menyebut kemungkinan bahwa pembunuhan tersebut adalah usaha untuk menimbulkan ketidakstabilan di Rusia. Selain hal tersebut konflik Rusia - Ukraina juga menjadi salah satu isu yang diduga menjadi motif penembakan.



Pernyataan dari komite penyelidik tersebut menyebutkan pria berusia 55 tahun tersebut kemungkinan merupakan korban dari mereka yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan politik mereka. Pernyataan ini mengulangi pernyataan dari Presiden Vladimir Putin yang menyebut kejadian ini sebagai sebuah provokasi.



Namun, komite tersebut tidak menyebutkan tuduhan dari para sang pemimpin oposisi yang menunjuk Presiden Putin sebagai dalang dari penembakan. Tuduhan ini muncul karena Nemtsov merupakan pengkritik keras Putin.



Bahkan pada wawancara dengan laman berita Sobesednik, 10 Februari dia mengaku takut akan keselamatannya.



“Saya takut Putin akan membunuh saya. Saya yakin dia yang mengobarkan perang di Ukraina. Saya sangat tidak suka dengan dia (Putin),” kata Nemtsov dalam wawancara tersebut, sebagaimana dikutip The Independent, Minggu (1/3/2015).



Beberapa jam sebelum terbunuh, Nemtsov bahkan menyebut kebijakan Putin sebagai kebijakan yang gila, agresif, dan mematikan.



Pembunuhan Boris Nemtsov memicu kecaman dari kubu oposisi. Diantaranya menduga bahwa pembunuhannya pada Jum’at malam 27 Februari 2015 direncanakan.



Putin sendiri langsung mengecam pembunuhan itu dan menyatakan duka cita kepada keluarganya. Seperti dilansir kantor berita TASS, dia juga memerintahkan badan-badan keamanan menginvestigasi penembakan di sebuah jembatan di pusat Ibukota Moskow tersebut.



Polisi mulai melakukan operasi pengejaran. Komite Penyelidikan Rusia, menurut Reuters, Sabtu, 28 Februari 2015, memburu beberapa jalur dalam penyidikan pembunuhan Nemtsov. Termasuk kemungkinan bertujuan mengguncang situasi politik.



Kantor berita Interfax menyebutkan, komite yang bertanggungjawab kepada Presiden Putin, juga melihat serangan oleh kalangan radikal Islam sebagai salah satu kemungkinan dalam kasus itu dan diduga terkait dengan peristiwa konflik berdarah di Ukraina.



Nemtsov adalah salah satu petinggi kelompok oposisi liberal Partai Republik Rusia atau Partai Kebebasan Rakyat. Dia belakangan menjadi pengkritik keras penangangan Kremlin dalam krisis Ukraina.



Pemimpin oposisi Ilya Yashin, seperti dikutip CNN, menyatakan sahabatnya itu tengah bekerja menyelesaikan sebuah laporan tentang tentara Rusia dan keterlibatan mereka di Ukraina Timur.



Kematiannya dua hari sebelum sebuah pawai besar oposisi yang rencananya digelar di Moskow, Ahad, 1 Maret 2015. Beberapa jam sebelum ditembak, Nemtsov diwawancarai sebuah radio dan menyatakan mengajak banyak warga Rusia hadir dalam reli, besok.



Setelah kematiannya, kubu oposisi gencar membujuk warga menghadiri pawai tersebut. Tapi Wali Kota Moskow menyebutkan mustahil memberikan ijin untuk menggelar pawai di bawah UU Rusia. Karena aplikasi perijinan harus diajukan 15 hari sebelumnya.



Nemtsov tengah berjalan dengan seorang teman perempuannya pada Jumat menjelang tengah malam. Keduanya menyebrangi sebuah jembataan dekat Kremlin, di sekitar Lapangan Merah, ketika sebuah mobil mencegatnya dan seseorang menembakinya.



Empat tembakan menewaskan pemimpin oposisi kharismatik itu, sementara teman perempuannya terluka. Mobil itu langsung kabur.



CNN | OKZ | TEMPO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar