Sabtu, 31 Januari 2015

Aksi Narsis dan Lucu Tiga Katak “Bersaudara” di Kalimantan (PHOTO)





Tiga ekor katak jenis Reinwardt's diabadikan oleh fotograger Hendy Mp, di dekat rumahnya di Sambas, Kalimantan Barat. Dikutip dailymail, Katak Reinwardt's umumnya dikenal sebagai Katak pohon berselaput atau Katak hijau terbang. Tampak ketiganya sedang asyik berpelukan.



Hidup sampai nama mereka: Tiga Reinwardt Terbang Katak, umumnya dikenal sebagai hitam katak pohon berselaput atau katak terbang hijau, yang terlihat bermain di pohon oleh fotografer Hendy Mp

Living up to their name: Three Reinwardt's Flying Frogs, commonly known as the black webbed tree frog or the green flying frog, were spotted playing in a tree by photographer Hendy Mp



Say cheese: The trio, pictured in Kalimantan Barat, in Indonesia, were happy to pose for the camera, with one offering up a big grin

Say cheese: The trio, pictured in Kalimantan Barat, in Indonesia, were happy to pose for the camera, with one offering up a big grin



Branching out: These frogs clearly have personality as they posed like pros. 'They reminded me of three playful brothers and the one frog that looks like he is smiling I thought was very cute,' said the photographer

Branching out: These frogs clearly have personality as they posed like pros. 'They reminded me of three playful brothers and the one frog that looks like he is smiling I thought was very cute,' said the photographer



Photographer's dream: Mr Mp said the frogs 'kept moving around every couple of minutes, climbing on each other and changing positions'

Photographer's dream: Mr Mp said the frogs 'kept moving around every couple of minutes, climbing on each other and changing positions'



Leap frog, anyone? The three moved quickly and elegantly and reminded the photographer of dancer, who said he stayed for two hours

Leap frog, anyone? The three moved quickly and elegantly and reminded the photographer of dancer, who said he stayed for two hours



Hang on: The frogs, native to Indonesia, Malaysia and Thailand, change their position and expressions yet again

Hang on: The frogs, native to Indonesia, Malaysia and Thailand, change their position and expressions yet again



Go away: The frogs turn their back on the 25-year-old photographer, who spotted them near his home in Sambas, Kalimantan Barat

Go away: The frogs turn their back on the 25-year-old photographer, who spotted them near his home in Sambas, Kalimantan Barat



Green and yellow: They can be either light green or dark green in colour and they have black spots around their backs and heads

Green and yellow: They can be either light green or dark green in colour and they have black spots around their backs and heads



Line-up: This time, the frogs form an orderly queue on the branch. They are classed as a near threatened species by the International Union for Conservation of Nature

Line-up: This time, the frogs form an orderly queue on the branch. They are classed as a near threatened species by the International Union for Conservation of Nature



Sementara itu, di Palangkaraya, Indonesia, Muhammad Berkati melihat saat kupu-kupu yang berani duduk di atas kepala katak pohon hijau

Meanwhile, in Palangkaraya, Indonesia, Muhammad Berkati spotted the moment a brave butterfly sat atop a green tree frog's head



The photographer, who spotted the green tree frog in a meadow, said: 'The frog did not seem bothered by the presence of butterfly at all'

The photographer, who spotted the green tree frog in a meadow, said: 'The frog did not seem bothered by the presence of butterfly at all'



sumber: dailymail





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Nyontek dan cengengesan saat wawancara di Kompas TV, Presiden Jokowi di-Bully Netizen Habis-habisan



Presiden Joko Widodo akhirnya bicara blak-blakan terkait perseteruan Polri dan KPK. Sebagai kepala negara, Presiden Jokowi mengatakan KPK-Polri harus bahu-membahu memberantas korupsi. 



KPK-Polri juga harus buka kasus secara transparan dan tuntas, karena mereka harus menjaga kewibawaan institusi sebagai penegak hukum.



Dalam wawancara ekslusifnya dengan Kompas TV, ia memberikan gambaran atas apa yang dilakukannya dalam menyelesaikan kisruh KPK-Polri.



Namun, gesture dan jawaban Jokowi yang kurang tegas, jadi bahan ledekan netizen.



“…kalau sudah aturan itu saya belum ini… Saya kan baru kemarin (jadi presiden). Hehehe…,” kata Jokowi menjawab pertanyaan wartawan Kompas TV.



Netizen berkomentar negatif atas wawancara tersebut.



“Musibah betul punya presiden ginian… dari awal bicara tingpletot.. tatapan mata gak fokus gak memguasai masalah. cengengesan… dan di ending wawancara fakta bahwa presiden ini gak layak jadi Presiden, gak ngerti opo opo heeeuuuh…” ungkap salah satu netizen di Youtube.



"Ada orang yang gak pinter ngomong tapi kerjanya bagus. Kalo ini udah gak pinter ngomong, kerja juga gak beres," tulis Alkausar Badilla.



Sementara Gita Savitri Devi menulis, "Pak jokowi lagi UAN ya ampe bawa contekan segala".







(fimadani/youtube)





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Kaum “Hawkish” AS dan Konspirasi Politik Internasional






You call yourself a Christian, I call you a hypocrite You call yourself a patriot. Well, I think your are full of sh*t!... How come youíre so wrong, my sweet neo-con





Oleh Riza Sihbudi





ITULAH sepenggal lirik lagu baru dari kelompok musik legendaris The Rolling Stones yang berjudul Sweet Neoco. Neocon (neo-konservatif) adalah sebutan lain dari kelompok hawkish yang sejak 2001 sepenuhnya mengendalikan kebijakan luar negeri dan pertahanan Amerika Serikat (AS).





Sejak kaum hawkish berkuasa di AS, situasi politik internasional justru bagaikan hutan rimba. Hukum internasional digantikan oleh hukum rimba, siapa kuat akan menang, kekuatan adalah kebenaran, dan yang paling ironis adalah ketika akumulasi kebohongan akhirnya diterima menjadi kebenaran.










Sepak terjang kaum hawkish itulah yang menuai banyak kritik dari berbagai kalangan yang masih mau berpikir kritis dan rasional, seperti lirik lagu yang dilantunkan oleh musisi Mick Jagger dan kawan-kawan di atas: ''Kamu mengaku Kristen, tapi aku menyebutmu seorang hipokrit, kamu mengaku pahlawan, tapi aku pikir kamu pembohong besar''.





Sebutan yang memang sangat tepat bagi kaum hawkish adalah hipokrit dan pembohong besar.





Invasi AS ke Afghanistan dan Irak adalah bukti kebohongan kaum hawkish. Begitu pula dengan isu terorisme pascaserangan 11 September 2001. Sementara isu demokrastisasi dan hak-hak asasi manusia menjadi cermin kehipokritan mereka.





Siapa Kaum Hawkish?





Siapa sebenarnya yang disebut sebagai kaum hawkish atau neo-konservatif itu? Justin Raimondo dalam artikelnya, No Sympathy for the Neocons (Antiwar.com, 10 Agustus 2005) mengatakan, mereka adalah para mantan kaum kiri (lefties) AS yang karena alasan pragmatisme kemudian berbalik menjadi sangat kanan (rightists). 





Trias Kuncahyono dalam bukunya, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish (2005), antara lain menyebutkan bahwa cikal-bakal kelompok ini sudah ada sejak 1992, namun baru pada 1997 mereka secara resmi membentuk tangki pemikir (thing tank) yang mereka sebut sebagai the Project for the New American Century (PNAC).





Tujuan utama PNAC, seperti ditulis William Rivers Pitt, adalah: ''The establishment of a global American empire to bend the will of all nations. They chafe at the idea that the United States, the last remaining superpower, does not do more by way of economic and military force to bring the rest of the world under the umbrella of a new socio-economic Pax Americana'' (www.informationclearinghouse.info, 25 Februari 2003).





Intinya, membangun sebuah imperium global di bawah payung Pax-Americana. Untuk itu, AS harus memperkuat ekonomi dan militernya, serta sebuah kebijakan luar negeri yang tegas. Dengan kata lain, Pax Americana adalah gagasan kaum hawkish tentang ''kekaisaran Amerika'' yang meliputi seluruh dunia atas dasar ideologi ''internasionalisme Amerika'', di mana salah satu strategi militernya didasarkan pada pandangan bahwa The best defense is a good offense (doktrin pre-emptive strike).










Kelompok hawkish yang dimotori tiga tokoh utamanya, Dick Cheney (Wapres), Donald Rumsfeld (Menhan), dan Paul Wolfowitz (mantan Presiden Bank Dunia), sudah sejak 1998 mendesak pemerintahan AS (waktu itu di bawah Bill Clinton) untuk menumbangkan kekuasaan Saddam Hussein di Irak.





Tujuannya tidak lain untuk menguasai ladang-ladang minyak Irak guna mendukung ambisi pembentukan ''kekaisaran Amerika''. Jadi, bohong besar, jika invasi ke Irak dilakukan lantaran Saddam terlibat dalam serangan teroris 11 September 2001, atau karena kepemilikan senjata pemusnah massal (WMD). 





Bush dan para kroninya bahkan tidak mampu mempertanggungjawabkan miliaran dolar proyek rekonstruksi Irak. Karenanya, sama sekali salah menganggap AS sebagai negara yang bersih dari para koruptor besar. Beberapa waktu lalu, seorang jenderal AS di Irak dipecat lantaran mencoba membongkar korupsi di tubuh para kroni Bush.





Dua peristiwa yang dianggap sebagai momentum penting bagi kaum hawkish untuk sepenuhnya mengendalikan pemerintahan di AS, adalah terpilihnya GW Bush dan terjadinya serangan teroris 11 September 2001. Sejak Bush memangku jabatan presiden pada Januari 2001, para penyusun ''impian imperium PNAC'' kemudian tampil sebagai pengendali utama Pentagon dan Gedung Putih. 





Lalu, tragedi 11 September menjadi jalan bagi mereka untuk mengubah gagasan yang mereka susun dalam Buku Putih menjadi sebuah rumusan kebijakan, yang kemudian dijalankan Bush. Dalam menjalankan kebijakannya, terutama atas nama memerangi terorisme, Bush dan kaum hawkish seringkali tidak mengindahkan norma-norma hukum dan hubungan internasional, termasuk melakukan intervensi dan invasi ke negara-negara lain.





Bush (yang selalu menyebut dirinya sebagai seorang war president) dan para kroninya berusaha melakukan intervensi yang terlalu jauh terhadap negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, dengan misalnya membujuk dan menekan sejumlah pesantren di Indonesia untuk merevisi kurikulum pendidikan pesantren atau sekolah-sekolah keislaman lainnya. Dengan sesuka hati, Bush dan para kroninya mengaitkan pesantren dengan terorisme.





Padahal, sebagaimana pernah dikatakan Presiden RI (waktu itu) Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya pada KTT OKI di Putrajaya, Malaysia (Oktober 2003), bahwa sumber dari segala maraknya terorisme yang terkait dengan Islam adalah justru ketidakadilan dan politik standar ganda AS terhadap bangsa-bangsa muslim, khususnya di Palestina, Afghanistan dan Irak, serta pembelaan yang berlebihan AS pada Israel.





Teologi Perang George W Bush





Jika banyak teroris lokal (kelompok Azahari-Noordin M Top) dituduh oleh para ulama sebagai telah memanipulasi ajaran agama (Islam) untuk melakukan aksi-aksi teror mereka, maka Bush dan kaum hawkish pun dituduh telah memanipulasi ajaran agama (Kristen) untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka dengan melancarkan invasi ke Afghanistan dan Irak. 





''You call yourself a Christian, I call you a hypocrite,'' kata The Rolling Stones.





Tentu bukan hanya Mick Jagger dan kawan-kawan yang mengecam Bush dan kaum hawkish. Pada Juni 2003, atau sekitar tiga bulan setelah invasi AS ke Irak, GW Bush mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Palestina di resor Sharm el-Sheikh (Mesir). Tokoh-tokoh Palestina yang hadir di antaranya, PM (sekarang Presiden) Mahmoud Abbas dan Menteri Luar Negeri (saat itu) Nabil Shaath. 





Kepada Abbas, Bush mengatakan, ''I am driven with a mission from God. God would tell me, ëGeorge go and fight these terrorists in Afghanistaní. And I did. And then God would tell me ëGeorge, go and end the tyranny in Iraqí. And I did''. (''Saya menjalankan misi Tuhan. Tuhan mengatakan kepada saya,  O George perangilah para teroris di Afghanistaní. Dan saya sudah lakukan. Kemudian Tuhan mengatakan, O George hancurkanlah tirani di Irak. Dan saya sudah lakukan'').





Cerita tersebut diungkapkan oleh Nabil Shaath kepada jaringan televisi BBC London dalam acara yang diberi tajuk Elusive Peace: Israel and the Arabs yang ditayangkan pada 10, 17, dan 24 Oktober 2005. Kendati dibantah oleh jurubicara Gedung Putih, Scott McClellan (yang mengaku tak hadir dalam pertemuan di Mesir itu), cerita Nabil Shaath itu dibenarkan





oleh Mahmoud Abbas. Menurut Abbas, saat itu Bush memang menyebut ''I have a moral and religious obligation...'' (''Saya memiliki kewajiban moral dan keagamaan'').





Komentar Bush itu memancing kemarahan di kalangan tokoh-tokoh nasrani sendiri. Andrew Blackstock, Direktur Christian Socialist Movement, mengatakan, jika Bush benar-benar ingin mematuhi ajaran agama, maka ia seharusnya berpijak pada apa yang sudah jelas-jelas tersurat dalam Al-Kitab, bukannya menonjolkan hal-hal yang gaib. 





Itu akan membuat kebijakannya lebih bermanfaat bagi kaum lemah yang terpinggirkan. Sungguh suatu hal yang benar-benar mengejutkan, di sebuah negara super maju dan super sekuler, justru ada seorang presiden yang mengaku menjalankan kebijakannya atas dasar wangsit dari Tuhan. Ia tak ubahnya seorang kepala suku terbelakang di benua Afrika sana.








Pada September 2005, tokoh-tokoh senior Gereja Inggris mempertanyakan ''hak moral'' AS dalam kebijakan luar negerinya. Para uskup dari Bath and Wells, Oxford, Coventry, and Worcester, dalam laporan 100 halaman berjudul Countering Terrorism: Power, Violence and Democracy Post 9/11, antara lain menekankan pengaruh negatif dari teologi palsu kaum hawkish dan fundamentalis di AS. 





Menurut mereka, tidak ada satu bangsa pun di dunia yang mempunyai hak-hak istimewa. Tidak ada satu pun negara yang berhak memandang dirinya sebagai bangsa penebus dosa, yang dipilih oleh Tuhan sebagai bagian dari rencana yang sudah ditakdirkan Tuhan.





Bush yang sejak 1985 dibabtis menjadi seorang Kristen Evangelis, dituduh telah mendeklarasikan hukumnya sendiri bahwa peperangan adalah kehendak Tuhan.





Sebuah tangki pemikir Inggris bernama Ekklesia mengatakan, menghubungkan iman Yesus Kristus yang adalah juru damai dengan kebijakan yang bertanggung jawab untuk pembinasaan dan kematian adalah suatu penyalahgunaan agama untuk tujuan politis yang harus dijauhi para pemuka gereja lantaran dapat memancing kemarahan umat Islam.





Yesus jelas menyerukan pada para pengikutnya untuk menjadi juru damai. Jadi aneh jika ada yang mengaku sebagai pengikutnya yang fanatik tapi justru melancarkan pemboman dan pembunuhan.





Ekklesia mengkhawatirkan pandangan ekstrim Bush dan kaum hawkish itu akan membuat kalangan muslim memandangnya sebagai sebuah Perang Salib. Mereka menyerukan pada kalangan pemuka gereja untuk mengoreksi pandangan Bush dan kaum hawkish.





Pada pemilu akhir November 2004, Bush dituduh telah ''memainkan kartu Tuhan''. Konon, pendeta terkemuka Billy Graham sudah menasehati Bush untuk tidak mempermainkan Tuhan (never play God). Namun para pendukungnya dari kubu Kristen fundamentalis justru mendesak Bush untuk menonjolkan tema-tema ideologis-religius guna memenangkan pemilu, kala itu.





Catatan





Dari apa yang sudah diuraikan sebelumnya, bisa ditarik benang merah sebagai penutup tulisan ini.





Pertama, situasi politik Timur Tengah (juga dunia internasional pada umumnya) yang tampak carut-marut sepanjang tahun 2005 bahkan sejak 2001, pada intinya bersumber pada sepak terjang kaum hawkish atau neokonservatif yang praktis mengendalikan politik luar negeri AS, khususnya di Timur Tengah. Ambisi kaum hawkish untuk menguasai sumber minyak di kawasan ini, khususnya di Irak, telah memberikan andil dalam terjadinya pelonjakan harga minyak dunia.





Kedua, kedekatan antara kaum hawkish dan kalangan fundamentalis Kristen serta kaum Zionis garis keras membuat semakin jauhnya penyelesaian konflik Arab-Israel, khususnya Palestina-Israel. Juga, semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk Parsi. Sikap keras kaum hawkish yang tidak juga bersedia mengakhiri pendudukan AS atas Irak, terbukti telah mendorong makin kerasnya perlawanan para pejuang Irak (yang oleh kaum neokon dijuluki sebagai ''para teroris'', padahal mereka jelas bukan teroris, karena perjuangan mereka dalam rangka membebaskan Tanah Air sendiri).





Ketiga, AS di bawah kepemimpinan GW Bush --saat itu- yang dikendalikan kaum hawkish mengklaim hendak mempromosikan dan menyebarluaskan demokrasi ke seluruh kawasan Timur Tengah. Namun, dalam realitasnya demokrasi tak lebih hanyalah sebagai kedok untuk menutupi ambisi mereka yang sebenarnya, yaitu menguasai minyak Timur Tengah.



Di satu sisi mereka mencoba memaksakan demokrasi atas negara dan bangsa Irak, sementara di sisi lain mereka justru terus menerus melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia terhadap ribuan rakyat sipil Irak. Padahal, demokrasi dan hak-hak asasi manusia jelas tak bisa dipisahkan satu sama lain. 





Keempat, isu terorisme yang terus dimunculkan AS dan kaum hawkish, pada hakikatnya juga dipakai sebagai kedok untuk menutup-nutupi ambisi ekonomi-politik mereka. Mereka terus mengobarkan perang melawan terorisme, namun mereka sendirilah yang sebenarnya mempraktikkan terorisme sampai sekarang.





Ketegangan politik internasional juga dapat kian meningkat jika kaum hawkish terus memaksakan kehendak mereka atas sejumlah isu lain (di luar terorisme), seperti Irak, Afghanistan, Palestina, dan Suriah. (*Riza Sihbudi)
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






Astagfirullah, Pengadilan Mesir Nyatakan HAMAS Teroris



Pengadilan rezim Mesir, Sabtu, menyatakan Brigade Qassam, sayap bersenjata kelompok Palestina Hamas sebagai organisasi terlarang dan mencantumkannya sebagai organisasi 'teroris'.



Hamas bagian dari Ikhwanul Muslimin Mesir yang juga telah dinyatakan penguasa setempat sebagai kelompok 'teroris' dan menekannya secara sistematis sejak tentara menggulingkan pemimpinnya, Mohammed Moursi, dari kursi kepresidenan pada 2013.



"Pengadilan memutuskan melarang Brigade Qassam dan mencantumkannya sebagai kelompok teroris," kata hakim di pengadilan khusus Kairo.



Pelarangan itu merupakan buntut penyerangan militer Mesir di Sinai yang menewaskan puluhan tentara.



Para pejabat Mesir menuduh senjata telah diselundupkan dari Jalur Gaza yang diperintah Hamas ke Mesir. Senjata-senjata itu jatuh ke tangan kelompok-kelompok militan yang bertempur menggulingkan pemerintahan Kairo, yang dukungan Barat dan Amerika Serikat.



Para militan yang berpangkalan di Sinai, Mesir, yang berbatasan dengan Gaza, dituding membunuh ratusan personel polisi dan tentara rezim Mesir sejak berakhirnya kiprah politik Moursi.



Pemberontakan itu meluas ke bagian-bagian lain di Mesir yang adalah negara Arab paling padat penduduk, demikian Reuters.







Hamas tak sudi



Sementara itu sebuah sumber sayap militer Hamas menyampaikan isyarat bahwa Hamas tidak akan lagi menerima Kairo sebagai mediator perdamaian Hamas dengan Israel.



Isyarat ini disampaikan setelah pengadilan Mesir melarang sayap militer Hamas dan menyantumkannya sebagai organisasi teroris.



"Setelah keputusan pengadilan itu, Mesir tidak akan lagi menjadi mediator bagi masalah Palestina-Mesir," kata sumber itu kepada Reuters.





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

ISIS Bakar buku-buku Sekuler perpustakaan Mosul





Sejumlah laporan dari Irak utara mengatakan, kelompok Negara Islam atau dulu disebut ISIS menargetkan serangan atas perpustakaan di kota Mosul, Irak.



Kantor berita Associated Press, AP mengatakan, ISIS membersihkan sekitar dua ribu buku dari perpustakaan pusat Kota Mosul, pada awal bulan ini.



Kantor berita AP juga menyebutkan, militan ISIS ini juga melakukan penggeledehan isi perpustakaan Universitas Mosul.



Sejumlah saksi mata mengatakan, anggota ISIS membawa pergi buku-buku bertema filsafat, kebudayaan serta ilmu pengetahuan, namun mereka membiarkan buku-buku Islam tetap di atas raknya.



Seorang warga Mosul, yang tidak mau menyebutkan jati dirinya mengatakan, militan akan membakar buku-buku yang mempromosikan ide-ide sekularisme.



Membakar buku



Di hadapan para mahasiswa, mereka dilaporkan membakar buku-buku yang dianggap mempromosikan sekularisme.



Seorang guru besar Sejarah Universitas Mosul, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan, diantara buku-buku yang dibakar adalah arsip penting seputar sejarah kehadiran Gereja ortodoks yang berusia 265 tahun.



Kota Mosul, salah-satu kota terbesar di Irak, selalu membanggakan bahwa kota mereka merupakan kota pendidikan.



Di kota ini banyak ditemukan situs peninggalan Irak kuno dan berdiri banyak perpustakaan.



Ketika pasukan AS menyerbu Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein pada tahun 2003, warga Mosul yang tinggal di dekat Perpustakaan pusat berbondong menyembunyikan beberapa naskah kuno bersejarah di rumah mereka.



Hal ini dilakukan untuk mencegah aksi pencurian atau perusakan terhadap naskah-naskah itu oleh para penjarah.



sumber: bbc





DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 30 Januari 2015

Akun Palsu Jokowi Tipu Media sekelas TIME, Semua Kena Tipu






Tidak sedikit orang yang tertipu oleh akun Joko Widodo di Facebook yang 'terverifikasi'. Selama ini akun itu dianggap sebagai akun resmi milik Presiden Joko Widodo.





Apalagi, akun yang sudah disukai oleh 2,1 juta pengguna Facebook ini sudah diverifikasi oleh Facebook. Yang tertipu bukan hanya masyarakat dan media di Indonesia. Media asing sekelas TIME pun ikut tertipu.





Misalnya, dalam tulisan di edisi Rabu lalu (28/1), yang menyoroti fenomena pendarahan dukungan Jokowi, jurnalis TIME Yenni Kwok juga mengutip pernyataan dari akun palsu itu.





"Hari Minggu lalu Presiden Indonesia Joko Widodo menulis di halaman Facebook miliknya: Suro Diro Joyonirat Lebur Dening Pangastuti," tulis Yenni Kwok.





Kalimat singkat itu berarti bahwa sikap keras kepala, picik dan amarah hanya dapat ditaklukkan dengan kebijaksaan, kebaikan dan kesabaran.





Sejauh ini sudah lebih dari 84 ribu pengguna Facebook yang mengacungkan jempol untuk tulisan itu. Juga hampir 10 ribu yang memberikan komentar dan 1.400 membagikan ke pengguna Facebook lainnya.





Beberapa hari terakhir ini, publik kaget setelah Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengatakan bahwa Jokowi sama sekali tidak memiliki akun FB dan Twitter.





Dia membenarkan bahwa kedua akun itu dibuat saat menjelang Pilpres 2014.





Menurut Andi, admin kedua akun itu ada di Posko Cemara 19, salah satu posko pemenangan Jokowi di masa pilpres.





Setelah menjadi presiden, sebut Andi, Jokowi sudah lepas tangan dan tidak pernah menggunakannya lagi.





Selain akun Jokowi, akun yang selama ini dianggap milik Ibu Negara Iriana Widodo pun ternyata palsu.



sumber: jpnn
















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.






FOTO-FOTO: Mengharukan, Singa Besar ini masih Mengingat Penyelamatnya saat masih Bayi






Sirga, seekor bayi singa saat itu ditemukan terpisah dari kawanannya dan tersesat ketika diselamatkan oleh Valentin Gruener dan Mikkel Legarth.  Binatang buas ini ditemukan dalam kondisi tidak bisa berdiri dan sekarat.



Keduanya kemudian merawat binatang ini hingga sehat sebelum kemudian melepasnya di hutan. Di taman nasional Botswana, Sirga kini bisa berburu mangsa sendiri.



Meski berada di alam liar, binatang seberat hampir 50 kg ini masih mengenali dua penyelamatnya. Foto-foto yang diabadikan fotografer Nicolai Frederik Bonnin menunjukkan momen ketika Sirga bertemu kedua penyelamatnya.



Dia berlari, kemudian berdiri dengan dua kaki belakang, lalu menggunakan kaki depannya untuk "memeluk" penyelamatnya.













Dia, layaknya binatang yang mengenali kawannya, juga sesekali mengajak bercanda penyelamatnya. Misalnya, memainkan kaki Gruener, dan sesekali menubruk Legarth seperti hendak melahapnya.



"Induk dan dua anak lainnya tewas saat kami menemukan Sirga dalam kondisi lemah tanpa makanan," kata Legarth, 30 tahun. Ia mengatakan ikatannya dengan Sirga seolah-olah seperti Sirga merupakan bagian dari kebanggaannya.



Sirga menjadi mercusuar bagi keberhasilan Modisa Wildlife Project yang didirikan di Botswana oleh Gruener, warga Jerman, dan Legarth, warga Denmark. Organisasi ini berkutat di bidang penyelamatan singa dan pelestarian populasinya.











Botswana, luasnya dua setengah kali ukuran Inggris, memiliki wilayah padang gurun yang luas. Namun seiring dibukanya lebih banyak ladang, konflik antara manusia dan singa kian bertambah.



Modisa Wildlife Project yang bekerja sama dengan petani lokal dan Willie De Graaff, pemilik Grassland Safari Lodge, kini berjuang untuk menemukan solusi jangka panjang. Rencana jangka pendek adalah merelokasi singa yang bersinggungan dengan petani ke kawasan lindung di mana mereka memiliki cukup mangsa liar untuk dimakan.

















Ketiga foto terakhir ini diambil saat Sirga masih bayi dan beranjak remaja








Sirga when she was a lioness cub playing with Mr Legarth after she was rescued




sumber:dailymailcouk















DISCLAIMER: Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi ATJEHCYBER. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.